Skip to content

Wanita Sebagai Isteri

July 28, 2008

Dalam Pasal 11 karya bertajuk Masyarakat Islam dalam Al Qur’an & Sunnah tulisan Dr. Yusuf AlQardhawi, beliau menulis begini:

WANITA SEBAGAI ISTRI

Sebahagian agama dan sistem menganggap wanita sebagai barang yang najis atau sesuatu yang menjijikkan dari perbuatan syaitan yang harus dijauhi dan lebih baik hidup menyendiri.

Sebahagian yang lainnya menganggap bahawa kedudukan seorang isteri sekadar sebagai alat pemuas nafsu bagi suaminya atau yang meladeni makanannya dan menjadi pelayan di dalam rumah tangganya.

Maka Islam datang untuk mengumumkan batalnya kerahiban dan melarang hidup menyendiri (tak mau menikah selamanya). Sebaliknya, Islam mengajarkan kepada kita bahawa pernikahan adalah salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah dalam kehidupan ini. Allah SWT berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar-Rum: 21)

Ada sebahagian sahabat Rasulullah SAW yang ingin memusatkan perhatiannya untuk beribadah dengan cara berpuasa sepanjang siang dan shalat sepanjang malam serta menjauh dari wanita. Maka Rasulullah SAW mengingkari hal itu dengan mengatakan:

“Adapun saya, berpuasa dan makan, shalat dan tidur dan menikahi wanita, maka barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku, maka tidak termasuk golonganku.” (HR. Bukhari)

Islam telah menjadikan isteri yang shalihah merupakan kekayaan paling berharga bagi suaminya setelah beriman kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya. Islam menganggap isteri yang shalihah itu sebagai salah satu sebab kebahagiaan.

Rasulullah SAW bersabda, “Seorang mukmin tidak memperoleh kemanfaatan setelah bertaqwa kepada Allah Azza wa jalla yang lebih baik selain isteri yang shalihah, jika suami menyuruhnya dia taat, jika dipandang dia menyenangkan, jika ia bersumpah kepadanya dia mengiyakan, dan jika suami pergi (jauh dari pandangan) maka dia memelihara diri dan harta (suami)nya” (HR. Ibnu Majah)

Rasulullah SAW bersabda, “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim)

Rasulullah SAW bersabda, “Di antara kebahagiaan anak Adam (adalah) isteri shalihah, tempat tinggal yang baik, dan kenderaan yang baik. (HR. Ahmad)

Islam mengangkat nilai wanita sebagai isteri dan menjadikan pelaksanaan hak-hak suami-istri itu sebagai jihad di jalan Allah.

Ada seorang wanita datang kepada Nabi SAW bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah delegasi wanita yang diutus kepadamu dan tidak ada satu wanita pun kecuali agar aku keluar untuk menemui engkau.” Kemudian wanita itu mengemukakan permasalahannya dengan mengatakan, “Allah adalah Rabb-nya laki-laki dan wanita dan ilah mereka. Dan engkau adalah utusan Allah untuk laki-laki dan wanita, Allah telah mewajibkan jihad kepada kaum laki-laki sehingga apabila mereka memperoleh kemenangan akan mendapat pahala, dan apabila mati syahid mereka akan tetap hidup di sisi Rabb-nya dan diberi rezeki. Amal perbuatan apakah yang dapat menyamai perbuatan mereka dari ketaatan? Nabi SAW menjawab, “Taat kepada suami dan memenuhi hak-haknya tetapi sedikit dari kaum yang bisa melaksanakannya.” (HR. Tabrani)

Islam telah menetapkan untuk isteri hak-hak yang wajib dipenuhi oleh suaminya. Hak-hak itu tak sekadar tinta di atas kertas, akan tetapi Islam menjadikan lebih dari itu iaitu yang mampu memelihara dan mengawasi. Pertama, keimanan dan ketaqwaan seorang Muslim, kedua, hati nurani masyarakat dan kesedarannya, dan ketiga keterikatan dengan hukum Islam.

Pertama sekali hak yang wajib dipenuhi seorang suami terhadap isterinya adalah mas kawin yang telah diwajibkan oleh Islam sebagai tanda kecintaan seorang suami terhadap isterinya. Allah SWT berfirman,

“Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebahagian dari maskawin itu dengan senang hati; maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (An-Nisa’: 4)

Maka di manakah letak wanita dalam peradaban selain Islam yang memberikan sebahagian hartanya kepada kaum lelaki, padahal fithrah Allah telah menjadikan wanita itu menuntut dan tidak dituntut (untuk memberi harta).

Hak yang kedua yang harus dipenuhi seorang suami terhadap isterinya adalah nafkah. Seorang suami diwajibkan untuk mencukupi makanan, pakaian, tempat tinggal dan pengobatan kepada isterinya.

Rasulullah SAW menjelaskan hak-hak wanita yang harus dipenuhi oleh seorang suami dalam sabdanya, “Dan bagi wanita (yang diwajibkan) atas kamu (kaum lelaki) rezeki mereka dan pakaian mereka dengan ma’ruf (baik).” Yang dimaksud dengan ma’ruf adalah sesuatu yang dianggap baik oleh ahli agama tanpa berlebihan dan tanpa mengurangi. Allah berfirman:

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannnya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadannya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kesanggupan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (At-Thalaq:7)

Hak yang ketiga adalah mempergauli dengan baik. Allah SWT berfirman, “Dan pergaulilah mereka (istri-istrimu), baik dalam berbicara, wajah yang berseri-seri, menghibur dengan bersendagurau dan mesra dalam hubungan”.

Rasulullah SAW bersabda, “Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaqnya, dan yang paling bersikap lemah lembut terhadap keluarganya.” (HR. Tirmidzi)

Ibnu Hibban berkata dari Aisyah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan saya adalah sebaik-baik (perlakuan) terhadap keluarga saya.”

Sirah Nabawiyah secara aplikatif telah membuktikan kelembutan Rasulullah SAW terhadap keluarganya dan akhlaq beliau sangat mulia terhadap para isterinya. Sampai-sampai Rasulullah SAW sering membantu para isterinya untuk menyelesaikan tugas-tugas di rumah dan di antara kelembutan Rasulullah SAW adalah bahawa beliau pernah mendahului Aisyah berlomba lari dua kali, lalu Aisyah mengalahkan beliau sekali dan sekali lagi dalam kesempatan yang lainnya. Maka beliau berkata kepada Aisyah “Ini dengan itu (skor sama).”

Sebagai timbal balik dari pelaksanaan hak-hak yang wajib dipenuhi seorang suami terhadap isterinya, maka Islam mewajibkan kepada isteri untuk mentaati suami di luar perkara maksiat. Serta memelihara hartanya, sehingga seorang isteri tidak boleh mempergunakan harta tersebut kecuali dengan izinnya. Demikian juga seorang isteri wajib memelihara rumahnya sehingga tidak boleh memasukkan orang ke dalam rumahnya kecuali atas seizin suaminya, walaupun itu keluarganya.

Kewajiban-kewajiban ini tidak banyak dan tidak bersifat menzhalimi seorang isteri, jika dibandingkan dengan kewajiban yang harus dipenuhi oleh suaminya. Oleh kerana itu setiap hak selalu diimbangi dengan kewajiban, dan di antara keadilan Islam bahawa Islam tidak menjadikan kewajiban itu hanya dibebankan pada wanita saja atau laki-laki saja.

Diriwayatkan bahwa sesungguhnya Ibnu Abbas pernah berdiri di depan cermin untuk memperbagus penampilannya. Ketika ditanya beliau menjawab, “Aku berhias untuk istriku sebagaimana istriku berhias untukku,” kemudian membacakan ayat yang ertinya:

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya.” (Al Baqarah: 228)

Ini adalah bukti yang nyata tentang dalamnya pemahaman Rasul dan sahabat terhadap Al Qur’an.

Menarik bukan? Bersyukurlah kita diciptakan sebagai wanita…

4 Comments leave one →
  1. July 28, 2008 8:05 pm

    Semoga semakin banyak wanita yang mengetahui kodratnya. Dan semakin banyak pula laki-laki yang mengerti kodratnya.
    Sehingga akan terjalin kehidupan yang harmoni dalam sebuah rumah tangga dan terwujudlah “Rumahku Surgaku”

  2. August 2, 2008 12:22 am

    Ya….

    Hari ini banyak perempuan yang meninggalkan rumah. Keluar menebar ke seluruh penjuru negeri. Memenuhi sela-sela persaingan kehidupan di lorong-lorong kota. Duduk di bangku-bangku pemegang kuasa. Menggiring dunia.

    Mereka tinggalkan kemuliaan dan keanggunan sebagai ibu rumah tangga. Mereka tinggalkan ketinggian derajat di hadapan sang Pencipta.

    Baik. hendaknya wanita menikah bangga menjadi ibu rumah tangga. Ia akan menjadi istri yang baik untuk suaminya. Ia akan memimpin anak-anak suaminya. Ia akan antarkan mereka menjadi anak-anak sholih dan sholihah seperti harapan ayahnya. Dan ia akan menemui Rabb-nya dengan kebanggaan.

    moga Allah permudah jalan tuk gapai Mardlotillah…
    af1 klu ga bisa difaham…
    wassalam

  3. January 28, 2009 2:18 am

    Waduh, ngomong2 masalah istri solehah….saya sendiri blm merid….😀
    Jadi Mallu Mbak….😀

    masak nunggu negara kita diserang musuh baru mau belajar angkat senjata. persediaan kok akhi🙂
    ga rugi persiapkan diri, kan? akhi sendiri kan udah mau menikah (itu lho di blognya, udah dicariin calon ma ibu, kan? hehe). selamat ya..🙂

  4. January 28, 2009 6:03 pm

    Piye iki toh Mbak….aku gak mao dijodohin….😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: