Skip to content

Ayat-Ayat POLIGAMI

June 13, 2008

Buat isteri2 atau bakal2 isteri, di sini aku ingin sekali berkongsi dengan kalian mengenai konsep poligami yang seharusnya diterima dengan hati terbuka (seperti janjiku dalam entri bertajuk ‘Kalau Ustazah Mau La’). Perkongsian ilmu kali ini adalah hasil tulisan Dr. Yusuf Al-Qardhawi bertajuk Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur’an & Sunnah, Cetakan Pertama Januari 1997, Citra Islami Press  . Pintaku, bacalah dengan akal yang waras lagi rasional bersuluh iman, bukan emosi yang membutakan mata hati sehingga tak nampak apa yang indah di dalam isi.

POLIGAMI

Orang-orang Kristen dan Orientalis menjadikan tema poligami ini seakan merupakan syi’ar dari syi’ar-syi’ar Islam, atau salah satu perkara yang wajib, atau minimal sunnah untuk dilaksanakan. Yang demikian ini tidak benar alias penyesatan, karena dalam praktek pada umumnya seorang Muslim itu menikah dengan satu isteri yang menjadi penentram dan penghibur hatinya, pendidik dalam rumah tangganya dan tempat untuk menumpahkan isi hatinya. Dengan demikian terciptalah suasana tenang, mawaddah dan rahmah, yang merupakan sendi-sendi kehidupan suami isteri menurut pandangan Al Qur’an.

 

Oleh karena itu ulama mengatakan, “Dimakruhkan bagi orang yang mempunyai satu isteri yang mampu memelihara dan mencukupi kebutuhannya, lalu dia menikah lagi. Karena hal itu membuka peluang bagi dirinya untuk melakukan sesuatu yang haram. Allah berfirman:

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung..” (An-Nisa’: 129)

 

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang mempunnyai dua isteri, kemudian lebih mencintai kepada salah satu di antara keduanya maka ia datang pada hari kiamat sedangkan tubuhnya miring sebelah. ” (HR. Al Khamsah)

 

Adapun orang yang lemah (tidak mampu) untuk mencari nafkah kepada isterinya yang kedua atau khawatir dirinya tidak bisa berlaku adil di antara kedua isterinya, maka haram baginya untuk menikah lagi, Allah SWT berfirman,

“Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja…” (An-Nisa’: 3)

 

Apabila yang utama di dalam masalah pernikahan adalah cukup dengan satu isteri karena menjaga ketergelinciran, dan karena takut dari kepayahan di dunia dan siksaan di akhirat, maka sesungguhnya di sana ada pertimbangan-pertimbangan yang manusiawi, baik secara individu ataupun dalam skala masyarakat sebagaimana yang kami jelaskan. Islam memperbolehkan bagi seorang Muslim untuk menikah lebih dari satu (berpoligami), karena Islam adalah agama yang sesuai dengan fithrah yang bersih, dan memberikan penyelesaian yang realistis dan baik tanpa harus lari dari permasalahan.

 

Poligami pada Ummat Masa Lalu dan Pada Zaman Islam

Sebagian orang berbicara tentang poligami, seakan-akan Islam merupakan yang pertama kali mensyari’atkan itu. Ini adalah suatu kebodohan dari mereka atau pura-pura tidak tahu tentang sejarah. Sesungguhnya banyak dari ummat dan agama-agama sebelum Islam yang memperbolehkan menikah dengan lebih dari satu wanita, bahkan mencapai berpulah-puluh orang atau lebih, tak ada persyaratan dan tanpa ikatan apa pun.

 

Di dalam Injil Perjanjian Lama diceritakan bahwa Nabi Dawud mempunyai isteri tiga ratus orang, dan Nabi Sulaiman mempunyai tujuh ratus orang isteri.

 

Ketika Islam datang, maka dia meletakkan beberapa persyaratan untuk bolehnya berpoligami, antara lain dari segi jumlah adalah maksimal empat. Sehingga ketika Ghailan bin Salamah masuk Islam sedang ia memiliki sepuluh isteri, maka Nabi SAW bersabda kepadanya, “Pilihlah dari sepuluh itu empat dan ceraikanlah sisanya.” Demikian juga berlaku pada orang yang masuk Islam yang isterinya delapan atau lima, maka Nabi SAW juga memerintahkan kepadanya untuk menahan empat saja.

 

Adapun pernikahan Rasulullah SAW dengan sembilan wanita ini merupakan kekhususan yang Allah berikan kepadanya, karena kebutuhan dakwah ketika hidupnya dan kebutuhan ummat terhadap mereka setelah beliau wafat, dan sebagian besar dari usia hidupnya bersama satu isteri.

 

Adil Merupakan Syarat Poligami

Adapun syarat yang diletakkan oleh Islam untuk bolehnya berpoligami adalah kepercayaan seorang Muslim pada dirinya untuk bisa berlaku adil di antara para isterinya, dalam masalah makan, minum, berpakaian, tempat tinggal, menginap dan nafkah. Maka barangsiapa yang tidak yakin terhadap dirinya atau kemampuannya untuk memenuhi hak-hak tersebut dengan adil, maka diharamkan baginya untuk menikah lebih dari satu. Allah berfirman:

“Jika kamu takut berlaku tidak adil maka cukuplah satu isteri” (An-Nisa’:3)

 

Kecenderungan yang diperingatkan di dalam hadits ini adalah penyimpangan terhadap hak-hak isteri, bukan adil dalam arti kecenderungan hati, karena hal itu termasuk keadilan yang tidak mungkin dimiliki manusia dan dimaafkan oleh Allah.

 

Allah SWT berfirman:

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isten(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.” (An-Nisa’: 129)

 

Oleh karena itu, Rasulullah SAW menggilir isterinya dengan adil, beliau selalu berdoa, “Ya Allah inilah penggiliranku (pembagianku) sesuai dengan kemampuanku, maka janganlah Engkau mencelaku terhadap apa-apa yang Engkau miliki dan yang tidak saya miliki.” Maksud dari doa ini adalah kemampuan untuk bersikap adil di dalam kecenderungan hati kepada salah seorang isteri Nabi.

Rasulullah SAW apabila hendak bepergian membuat undian untuk isterinya, mana yang bagiannya keluar itulah yang pergi bersama beliau. Beliau melakukan itu untuk menghindari keresahan hati isteri-isterinya dan untuk memperoleh kepuasan mereka.

 

Hikmah Diperbolehkannya Poligami

Sesungguhnya Islam adalah risalah terakhir yang datang dengan syari’at yang bersifat umum dan abadi. Yang berlaku sepanjang masa, untuk seluruh manusia.

 

Sesungguhnya Islam tidak membuat aturan untuk orang yang tinggal di kota sementara melupakan orang yang tinggal di desa, tidak pula untuk masyarakat yang tinggal di iklim yang dingin, sementara melupakan masyarakat yang tinggal di iklim yang panas. Islam tidak pula membuat aturan untuk masa tertentu, sementara mengabaikan masa-masa dan generasi yang lainnya. Sesungguhnya ia memperhatikan kepentingan individu dan masyarakat.

 

Ada manusia yang kuat keinginannya untuk mempunyai keturunan, akan tetapi ia dikaruniai rezki isteri yang tidak beranak (mandul) karena sakit atau sebab lainnya. Apakah tidak lebih mulia bagi seorang isteri dan lebih utama bagi suami untuk menikah lagi dengan orang yang disenangi untuk memperoleh keinginan tersebut dengan tetap memelihara isteri yang pertama dan memenuhi hak-haknya.

 

Ada juga di antara kaum lelaki yang kuat keinginannya dan kuat syahwatnya, akan tetapi ia dikaruniai isteri yang dingin keinginannya terhadap laki-laki karena sakit atau masa haidnya terlalu lama dan sebab-sebab lainnya. Sementara lelaki itu tidak tahan dalam waktu lama tanpa wanita. Apakah tidak sebaiknya diperbolehkan untuk menikah dengan wanita yang halal daripada harus berkencan dengan sahabatnya atau daripada harus mencerai yang pertama.

 

Selain itu jumlah wanita terbukti lebih banyak daripada jumlah pria, terutama setelah terjadi peperangan yang memakan banyak korban dari kaum laki-laki dan para pemuda. Maka di sinilah letak kemaslahatan sosial dan kemaslahatan bagi kaum wanita itu sendiri. Yaitu untuk menjadi bersaudara dalam naungan sebuah rumah tangga, daripada usianya habis tanpa merasakan hidup berumah tangga, merasakan ketentraman, cinta kasih dan pemeliharaan, serta nikmatnya menjadi seorang ibu. Karena panggilan fithrah di tengah-tengah kehidupan berumah tangga selalu mengajak ke arah itu.

 

Sesungguhnya ini adalah salah satu dari tiga pilihan yang terpampang di hadapan para wanita yang jumlahnya lebih besar daripada jumlah kaum laki-laki. Tiga pilihan itu adalah:

1. Menghabiskan usianya dalam kepahitan karena tidak pernah merasakan kehidupan berkeluarga dan menjadi ibu.

2. Menjadi bebas (melacur, untuk menjadi umpan dan permainan kaum laki-laki yang rusak). Muncullah pergaulan bebas yang mengakibatkan banyaknya anak-anak haram, anak-anak temuan yang kehilangan hak-hak secara materi dan moral, sehingga menjadi beban sosial bagi masyarakat.

3. Dinikahi secara baik-baik oleh lelaki yang mampu untuk memberikan nafkah dan mampu memelihara dirinya, sebagai istri kedua, ketiga atau keempat.

 

Tidak diragukan bahwa cara yang ketiga inilah yang adil dan paling baik serta merupakan obat yang mujarab. Inilah hukum Islam. Allah berfirman:

“Dan hukum siapakah yang lehih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin.” (Al Maidah: 50)

 

About these ads
4 Comments leave one →
  1. banabakery permalink
    December 9, 2008 4:26 am

    ass.wr.wb.
    afwan yaa…kyknya yg sdg “poligami” malah mbak qurata, tuh mujahidnya lebih banyak…hehe, bercanda
    ….
    oiya…gini stau sy banyak literatur ilmiah (maksdnya hasil penelitian ilmiah, trutama psikologi) yang menyatakan bahwa poligami itu buruk. Dari hasil penelitian itu bisa mjdi dasar generalisir,bahwa pria poligami adalah juga pezina di luar rumah, plus wanita yg mau dipoligami adalah wanita bermasalah (ada di yahoo group).
    Emang penelitian ilmiah, seilmiah apapun metodenya…gak bisa mutlaqon diterapkan hasilnya.

    Ttg penelitian Iip Wijayanto yg menemukan bahwa 97,5% mahasiswi pendatang Jogja tidak perawan, sy aja sudah gak percaya. Krn itu berarti bisa digeneralisir bahwa dari 1000 mahasiswi pendatang jogja, cuma 25 yg maswih perawan. WAAAHHH gak terima…masak akhwat2, teman ngaji yg notabene mahasiswi pendatang lebih banyk yg gak perawan ktk tinggal di Jogja…

    Ok..ada yg bilang metode Iip belum ilmiah, tp kalo generalisir bahwa pria poligami akn, juga pezina diluar rumah (artinya pligami bkn substitusi zina, tp komplementernya) …kayaknya ini lebih bodoh lagi, masak Nabi Muhammad SAW ….., masak Aa Gym….sy gak tega menulisnya.

    Setau saya Teh NInih (istri tua Aa Gym) adalah wanita baik baik…bukan sebagaimana yg dpt disimpulkn dr hasil2 pnelitian itu.

    BTW, saya appreciate dgn mbak qur.. yg sudah posting sesuatu yg amat bermanfaat. Semoga Allah Membalas amal Anda sebaik niatnya.

    Yg mau sy utarakan di komen ini adalah, menurut sy pribadi..poligami adlh solusi kaum wanita. Krn perkara proporsi jumlah yg lambat laun tapi pasti, lebih banyk dr pria. (Ini ada hadistnya).
    Menikah itu bkn cuma seks…tp juga tanggung jawab, tambah istri =tambah tgg jwb. Klo nafsu syahwat bisa dikendalikan cukup dgn satu istri…tdk perlulah menambah tgg jwb yg akan ditanya nanti di akhirat. Kcuali ada tujuan lain yg lebih mulia. (perkara dakwah, dll). Sebab poligami klo bkn untuk menghindari yg buruk (zina) maka brtujuan mendapat yg afdhal (jumlah anak muslim).

    Sy pny save-an komentar dr pria lain, yang saya dapat dr website orang yg kena ghazwul fikr. sya sampaikn di komen kedua aja


    wa’alaikassalam warahmatullahi wa barakaatuh..
    iyah, saya juga baru sadar kalo saya juga sepertinya udah berpoligami nich(bercanda juga kok akhi. heehehee..). buat pertama kalinya postingan saya dititip komentar sedetail ini. malah semuanya punya isi yang bermanfaat buat yang lainnya juga (bukan cuma saya) :-) saya sepakat kok sama akhi. masak Allah mengizinkan poligami kalo cuma membawa keburukan kepada hambaNya. hanya saja kita manusia yang jahil dan masih dijajah emosi dan ego ini terus menafikan hikmah2 yang tersirat pada perintah diijinkan poligami (yang pasti, manusia yang saya maksudkan itu bukan akhi :D ). semoga Allah mengurniakan hidayah buat mereka yang masih sulit menerima konsep poligami yang sebenarnya (saya sendiri masih cetek ilmunya tentang poligami. huhuuu…). semoga juga komentar akhi ini bisa membuka minda dan hati2 mereka. amin…

  2. banabakery permalink
    December 9, 2008 4:30 am

    lanjutan….sory ..panjang banget

    Saya ingin bertanya kepada orang-orang yang anti kepada poligami (terutama wanita), dengan berpegang pada informasi bahwa sebagai manusia kita tidak akan mungkin bisa adil dan yang mampu benar-benar adil hanyalah Allah SWT.

    Apakah menurut Anda memiliki anak lebih dari satu adalah wajar walaupun ada aturan bahwa kita harus adil terhadap setiap anak yang dimiliki? Jika Anda sebagai pasangan tidak sudi dipoligami Anda bisa minta cerai. Namun, jika anak saat telah mampu berpikir mandiri dan merasa tidak ingin memiliki saudara kandung, apa yang harus dia lakukan?

    Apakah jika Anda atau pasangan Anda diminta atau mencalonkan diri sendiri untuk menjadi presiden, gubernur, bupati, lurah atau sejenis nya (yang berbau-bau menjadi pemimpin) Anda akan menolak atau meminta pasangan Anda untuk menolak jabatan tersebut karena Anda tahu bahwa Anda atau pasangan Anda hanyalah manusia biasa yang pasti tidak mungkin bisa adil?

    Mungkin ada baiknya untuk tidak menggunakan ayat yang menyingggung-nyinggung keadilan dalam menolak poligami saat pengejawantahan keadilan sendiri tidak dapat dilakukan secara konsisten ke bidang lainnya.

    Perasaan wanita yang menjadi ‘korban’ poligami pun sering diumbar oleh orang-orang yang anti poligami dalam mencari pembenaran atas sikap mereka yang anti poligami, tapi apakah mereka pernah berpikir mengenai perasaan anak-anak yang lebih suka menjadi anak tunggal, terlebih orang tua mereka ternyata tidak adil dalam melimpahkan kasih sayang? Pernahkah terpikir perasaan rakyat yang merasa ditidakadili oleh pasangan Anda atau mungkin Anda sendiri saat menjadi pemimpin?

    Mengenai peristiwa Nabi Muhammad SAW tidak setuju jika anaknya dipoligami itu karena beliau tahu bahwa anaknya tidak sudi dipoligami, namun jika anaknya sudi dan bahagia dipoligami, saya yakin Nabi Muhammad SAW tidak akan meminta anaknya untuk diceraikan terlebih dahulu. Hal tersebut tidak membuat poligami jadi dilarang. Di sini intinya adalah jangan memaksakan kehendak dan menyebabkan terlukanya hati pasangan. Karena jika memang Beliau tidak setuju akan poligami, tentunya Beliau tidak akan melakukan poligami.

    Mengenai asumsi bahwa laki-lagi yang berpoligami hanya untuk memuaskan nafsu syahwatnya, bagaimana Anda bisa yakin bahwa laki-laki tersebut melakukan itu hanya untuk memuaskan nafsu syahwatnya? Bagaimana jika memang niatnya baik? Untuk yang melakukan pernikahan monogami, bagaimana Anda bisa tahu bahwa pasangan Anda menikah dengan Anda bukan untuk memuaskan syahwatnya belaka? Tidak ada yang bisa tahu isi hati manusia kecuali Allah SWT. Lalu bagaimana cara menilai hati nya? Jelas tidak bisa. Yang bisa dilakukan adalah perilaku dan tanggung jawab nya terhadap pasangannya, baik yang monogami ataupun poligami, apakah telah sesuai dengan aturan Islam. Bukankah demikian? Jikalau pun memang karena nafsu syahwat, setidaknya orang tersebut telah berusaha menyalurkan nafsu syahwatnya dengan cara yang Islami, baik bagi yang bermonogami ataupun berpoligami. Yang paling baik untuk dilakukan hanyalah berpikir positif bahwa sang pasangan menikahi kita dengan niat yang baik dan cara yang baik.

    Mengenai kasus Aa Gym menikahi janda muda nan cantik dan bukan janda tua di panti jompo, saya akan balik bertanya kepada Anda, jika Anda lelaki, untuk kasus monogami dulu saja, jika ada dua pilihan, yang satu wanita muda nan cantik jelita, yang satu sudah jompo dan untuk selain masalah usia dan fisik, keduanya bisa dianggap sebanding. Mana yang Anda pilih? Tepat sekali! Apa bedanya dengan cara memilih istri kedua, ketiga dan keempat? Kembali ke mantan janda muda cantik yang kini sudah jadi istri Aa Gym, mengapa setelah sekian lama menjanda ternyata Aa Gym lah yang dia pilih sebagai suaminya? Karena bisa jadi tidak ada lajang-lajang yang menurut dia cocok menjadi suaminya. Jadi lajang-lajang sekalian, dia janda muda dan cantik, lalu mengapa tidak ada yang mampu untuk mendapatkan hatinya? Ato jangan-jangan tidak ada lajang yang berminat karena para lajang lebih memilih untuk mencari wanita muda yang masih gadis? Halo? Apakah sang janda muda cantik itu harus menunggu menjadi tua dulu untuk mendapatkan sang Aa? Lalu, sambil menunggu menjadi jompo, bagaimana cara sang janda muda cantik itu memenuhi kebutuhannya akan lelaki? Apakah Anda akan menganjurkan sang janda muda cantik itu banyak-banyak berpuasa untuk mengendalikan hawa nafsunya? Bukankah pilihan poligami tersebut bisa jadi jalan yang halal bagi dia untuk memenuhi kebutuhannya tersebut? Bukankah sang Aa dan sang mantan janda itu kini berada dalam hubungan yang saling menguntungkan? Lalu bagaimana mengenai perasaan istri pertama Aa Gym? Apakah ayah dari istri pertama Aa Gym itu telah dengan lantang menyatakan kepada masyarakat bahwa dia minta agar Aa Gym menceraikan dulu istri pertamanya sebelum menikahi sang janda? Tidak. Dan apakah istri pertama Aa Gym itu juga meminta Aa Gym menceraikannya? Tidak juga. Padahal dengan meminta cerai maka harta keluarga akan dibagi dua (berdasarkan hukum di indonesia, harta yang dihasilkan dalam masa pernikahan adalah milik bersama antara suami istri), sang istri pertama akan memiliki kekayaan sama dengan Aa Gym, dan bisa jadi setelah bercerai dia bisa mendapatkan suami yang lebih gagah, lebih tampan, lebih kaya dari Aa Gym. Apakah istri pertama Aa Gym menyatakan tidak setuju? Tidak juga. Jadi? Bisa jadi orang-orang yang menghujat Aa Gym karena berpoligami sedang mendzalimi Aa Gym.

    Yang justru saya tidak setuju dari pernikahan Aa Gym dan istri keduanya adalah karena pernikahan itu berkesan diusahakan untuk ditutup-tutupi selama mungkin. Bertentangan dengan keyakinan saya bahwa pernikahan itu seharusnya dipublikasikan seluas mungkin, semakin banyak yang tahu, semakin cepat, semakin baik. Sehingga setiap orang tahu bahwa mereka telah menikah, mengharapkan bahwa masyarakat ikut mendoakan ikatan tersebut dan tidak ada yang berusaha mengganggu hubungan mereka.

    Bagi orang-orang yang beranggapan bahwa poligami menyakiti perasaan sang wanita, dan meminta sang laki-laki untuk memikirkan perasaan sang wanita, lalu bagaimana dengan perasaan lelaki yang merasa mampu dan terpanggil untuk melakukan poligami? Apakah perasaan laki-laki tidak ada artinya. Lalu bagaimana dengan perasaan wanita yang rela jadi istri kedua dan sudah merasa sangat cocok dengan sang lelaki? Tak usah dipedulikan? Apakah perasaan sang istri yang paling penting di dunia ini peduli setan dengan perasaan orang lain? Bagaimana jika misalnya sang calon istri kedua itu adalah ibu Anda, yang saat itu harus sendirian menghidupi anak-anaknya seorang diri, yang telah jatuh hati kepada sang lelaki, yang dia anggap bisa memenuhi kebutuhannya akan lelaki, menjadi kepala rumah tangga yang baik dan sekaligus juga bisa menjamin kehidupan dan menjadi pelindung bagi anak-anaknya? Apakah perasaan ibu Anda kalah penting dibandingkan perasaan istri dari laki-laki itu yang tidak ingin berbagi suami walaupun secara aturan agama diperbolehkan?

    Saya seorang laki-laki yang yakin bahwa poligami itu haram, makruh, halal ataupun wajib tergantung situasi dan kondisi saat poligami tersebut akan dilaksanakan. Namun, per saat ini tidak berminat berpoligami dan semoga saja tidak tercipta situasi di mana saya harus melakukan poligami. Amin.
    DeZiGH wrote

    wassalam.wr.wb.
    http://banabakery.co.cc


    subhanalLah… saya jadi terpaku sepanjang membaca komentar ini. lantang! tegas! berpendirian! dan pada saya orang ini melihat situasi (tentang poligami) yang berlaku dalam komuniti kita (khususnya di negara akhi) dari sudut yang lebih luas. saya setuju 110%

  3. June 1, 2009 11:10 am

    Assalaamu’alaikum Wr. Wb.
    Artikelnya bagus mbak, boleh dong diupload di Gg, agar bisa memberikan pencerahan kepada para anggotanya.
    Terimakasih.
    Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.


    wa’alaikassalam wbt..
    waahh!! komentar perdana dari orang kuat famili Gg nich. hihiii..
    insyaalLah ntar sy upload di Gg ya pak..
    syukran atas kunjungannya ke mari. mohon teguran dan nasihatnya pak.. :-)

  4. Ben permalink
    November 12, 2009 2:41 pm

    Tentang poligami ingat firman Allah ” Apa yang Allah turunkan pada manusia ? jawablah kebaikan” Dan memang poligami adalah untuk kebaikan dan kemaslahatan bagi umat manusia


    tiada satu pun di antara syariat2 yg ditetapkan itu sia2, pasti utk kebaikan mkhluknya termsuk la soal poligami. moga terbuka hijab utk kita memahaminya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: